Sabtu, 20 Desember 2014

Go-Bloggers.comm | Anak Kecil juga Bisa Nge-Blog!

Nemu video ini. Video semester 2, sewaktu ambil gambar masih seadanya, DSLR dicampur HP. Editan cuma pake movie maker. Haha.
Tapi bukan itu essensinya! Ini salah satu tugas paling berkesan di semester 2. Ngajak anak-anak panti buat belajar membuat blog! Asyik deeeh bareng Cantika sama Fahmi Rela. Check it out!



Simple is to be a Citizen Journalist

Gak percaya jadi jurnalis warga itu sederhana?
Nih ada tipsnya!
Tugas mata kuliah New Media - PODCAST


Just Sharing!

Bingung mau posting apalagi buat menuhin blog sementara, jadi mau share hasil jepretan kamera aja deeeh. Ada photo story abang pecel lele depan kostan, ada juga bangunan-bangunan dan keindahan Kota Bogor. Don't Copy and Paste without PERMISSION!!




Di Balik Kemewahan Kota Bogor


Banyak hal yang luput dari keseharian kita. Di balik canda, tawa, dan kemewahan kota, ternyata masih ada orang-orang yang justru menanti pertolongan dan keajaiban. Kehidupannya mungkin jauh lebih sulit dari kita.
Tengok photo essai ini. Lalu, kita semestinya gimana?

Kue Brownies atau Kue Brondong..?

Tugas itu kadang memaksa kita buat berpikir kreatif. Ntah ini kreatif atau nggak. Tugas mata kuliah penerbitan di suruh buat kemasan. Niru kemasan lain, tapi agak diplesetin, gitu. Nih contoh penampakan kemasannya :D


Senyuman Ukiran Kayu

 Lantunan ayat suci kian bergema di seisi rumah, membuat hatiku berdebar, tak kuasa membendung air mata. Dadaku penuh sesak kesedihan. Bingkisan dihiasi pita cantik itu sama sekali tak membuatku tersenyum. Angin berhembus kencang, seakan marah pada masa laluku. Kepalaku terasa pening, ketakutan dan penyesalan berkecamuk dalam pikiranku. Aku sandarkan tubuhku pada lemari tua buatan kakek. Semakin kusandarkan, lemari itu kian berdecit mengingatkanku pada pembuatnya. Kakek yang kini tengah terbaring di sampingku, dingin, kaku, membeku.

Aku berlari menghampiri ibuku, memeluknya penuh sesal, menangis, menumpahkan segala perasaan yang sulit dibendung. Ibu hanya tersenyum, berlinang memandangku, berusaha menenangkan, meski itu tak berhasil. "Sudah, tak apa. Tenanglah. Kamu ikut ngaji ya," ucapnya menghiburku.

Bergegas, aku masuk ke kamar. Kupakai jilbab putih bermotif abstrak. Lalu kuraih kitab sui Al-Quran yang terletak di meja riasku. Ayat demi ayat, berusaha aku bacakan. Semakin lama, aku kian terlarut kesedihan. Berbeda dengan kedatanganku ke mari dua minggu lalu. Saat aku bertingkah jengkel kepada kakek.

"Dek Sinta gimana kabarnya? Lamaa sekali, kakek tunggu kamu ke sini. Coba bapakmu mau kerja di kampung aja, tiap hari pasti bisa lihat cucu Kakek tumbuh cantik dan dewasa," kata kakek penuh kerinduan padaku.

Rabu, 05 Maret 2014

Kisah Syekh Juha dan Rentenir

Versi saya, masih ada sekitar 30-an versi lainnya.



Dahulu kala, dari wilayah timur tengah, terdapat seorang rakyat yang tidak biasa. Bukan karena ia memiliki ilmu sihir, bisa terbang, atau kaya raya. Tetapi pria ini memiliki akal yang amat cerdik. Kata-katanya sederhana, polos, terkesan tidak serius, tapi apa yang ia ucapkan selalu berlogika dan masuk akal!

Ini bukan kisah Abu Nawas, ini Syekh Juha. Mirip siih~

Suatu hari, Syekh Juha, pria cerdik dari Arab Saudi ini tengah kesulitan biaya untuk menafkahi keluarga kecilnya. Ia pun memberanikan diri untuk meminjam uang kepada rentenir di daerahnya.

"Wahai Saudaraku yang memiliki banyak harta. Bisakah aku meminjam sekeping uang emas darimu? Aku membutuhkannya untuk menafkahi keluargaku." Pinta Syekh Juha.

"Hmm. Kapan kiranya kau bisa kembalika uangku beserta anak dari uang yang kau pinjam? Hahaha." Tantang sang rentenir. Ia sedikit meremehkan Syekh Juha, bahkan segera menanyakan kesepakatan pengembalian pinjaman beserta bunganya. 

"Sebulan lagi saya datang kembali untuk mengembalikan uangmu beserta anaknya, Saudaraku." Ucap Syekh Juha dengan lantangnya.

Mendengar jawaban syekh tersebut, sang rentenir pun akhirnya mau meminjamkan sekeping uang emas.

Sebulan pun berlalu, sesuai janjinya, Syekh Juha mendatangi sang rentenir untuk mengembalikan sekeping uang emas yang ia pinjam, dan tidak lupa anak dari pinjaman, satu keping uang perak. Rentenir itu senang uangnya kembali, apalagi ditambah perak yang ia dapatkan.

Beberapa pekan kemudian, Syekh Juha ingin meminjam barang lagi, tanpa pikir panjang rentenir itu memperbolehkannya membawa barang yang ia mau, asalkan tidak lupa dengan kewajibannya menghasilkan anak dari barang yang ia pinjam. Ia pun meminjam sebuah gentong besar.

 Seperti biasa, minggu berikutnya Syekh Juha menepati janjinya mengembalikan gentong besar, sekaligus memberikan gentong kecil.

Dan ketiga kalinya, ia kembali meminjam sepuluh keping uang emas kepada rentenir untuk membuka usaha. Ia janji akan mengembalikan uang tersebut ditambah anaknya dua bulan mendatang. Rentenir semakin senang, ia sudah membayangkan rumahnya yang kian bergelimang harta.

Namun tak seperti yang dibayangkan. Kali ini rentenir harus menunggu lebih lama keuntungan yang akan ia dapatkan. Sebab, sudah lebih dari empat bulan, Syekh Juha tidak juga muncul batang hidungnya. Karena panik uangnya tidak kembali, rentenir pun langsung mendatangi kediaman Syekh Juha.

"Hai Juha! Mana uangku? Dan mana anak dari uangku yang kau janjikan?!" Teriak rentenir tersebut.

"Dengan sedih hati, Saudaraku. Kali ini aku sedang berduka. Uang yang kupinjam pertama kali memang beranak. Tapi uang yang kupinjam kali ini anaknya mati." Ucap Syekh Juha dengan tatapan duka amat sedih.

Sang rentenir pun terbelalak. Ia pusing dan tidak mampu lagi menghadapi tingkah laku Syekh Juha, si polos nan cerdik dari Arab Saudi.
-selesai-




Apa makna yang dapat kamu simpulkan dari cerita di atas?
Dosenku bilang, kalau kamu kerja di bank, mesti ingat cerita ini hehe :p
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...